Contoh 2 Uji F Dua Arah

Pertanyaan :

Hasil analisis kadar COD (ppm) dalam air limbah seorang analis baru diuji presisinya terhadap hasil analisis dari seorang analis seniornya. Hasilnya sebagai berikut :

Contoh Uji F Dua Arah WP1Apakah hasil analisis dari analis baru tersebut mempunyai presisi yang berbeda dibandingkan dengan analis seniornya pada tingkat kepercayaan 95 % ?

Jawaban

Perlu diuji apakah standar deviasi dari hasil analis baru  berbeda secara signifikan daripada hasil analis senior dengan uji-F dua arah karena yang ditanyakan adalah apakah hasil analis baru presisinya berbeda dibanding hasil analis senior.

  • Hipotesa

H0 = presisi hasil analis senior = hasil analis baru (s2senior=s2baru)

H1 = presisi hasil analis senior berbeda secara signifikan dibanding hasil analis baru (s2senior≠ s2baru)

  • Kriteria Uji :

Tolak H0 jika Fhitung ≥ F1/2α (db1; db2) atau Ftabel
lihat Tabel F 97,5 %

Fhitung = (7,59)2 / (3,84)2  = 3,907

Ftabel (dua arah, db1&db2=9) = 4,033 pada tingkat kepercayaan 95 %

  • Jadi Fhitung < Ftabel
  • Kesimpulan

Terima H0, presisi hasil analis senior  sama dengan  hasil analis baru pada tingkat kepercayaan 95 %

Daftar Pustaka

Modul “Kursus Pengolahan Data Hasil Validasi Metode Analisis Kimia” Bandung 19 – 23 Juni 2006 RCChem Learning Centre

Contoh 2 Uji-F Dua Arah

Pertanyaan :
Sebuah contoh abu soda (Na2CO3) dianalisis dengan dua metode yang berbeda, hasil yang didapat untuk persentase dari Na2CO3 :
Contoh Uji F Dua Arah WP

Apakah dua metode berbeda presisinya secara signifikan ?

Jawaban

Perlu diuji apakah standar deviasi dari metode 1 berbeda secara signifikan daripada metode 2 dengan uji-F dua arah karena yang ditanyakan adalah apakah metode 1 presisinya berbeda dibanding metode 2.

  • Hipotesa

H0 = presisi metode 1 = metode 2 (s21=s22)

H1 = presisi metode 1 berbeda secara signifikan dibanding metode 2 (s21≠ s22)

  • Kriteria Uji :

Tolak H0 jika Fhitung ≥ F1/2α (db1; db2) atau Ftabel
lihat Tabel F 97,5 %

Fhitung = (0,12)2 / (0,10)2  = 1,44

Ftabel (dua arah, db1=3; db2=4) = 9,979 pada tingkat kepercayaan 95 %

  • Jadi Fhitung < Ftabel
  • Kesimpulan

Terima H0, presisi metode 1 tidak berbeda secara signifikan  daripada metode 2 pada tingkat kepercayaan 95 %

Daftar Pustaka

R.A. Day, JR. & A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Penerbit Erlangga

Modul “Kursus Pengolahan Data Hasil Validasi Metode Analisis Kimia” Bandung 19 – 23 Juni 2006 RCChem Learning Centre

Contoh 2 Uji F Satu Arah

Pertanyaan :

Sebuah laboratorium ingin menggunakan metode Biuret untuk analisis protein sebagai alternatif dari metode kjeldahl yang selama ini sudah rutin dikerjakan laboratorium. Maka dilakukan percobaan penentuan protein menggunakan kedua metode di atas. Hasil yang diperoleh sbb

Contoh Uji F WP1

Apakah metode biuret yang diajukan lebih presisi dibandingkan metode kjeldahl ?

Jawaban :

Perlu diuji apakah standar deviasi dari metode biuret tersebut lebih kecil daripada metode kjeldahl dengan uji-F satu arah karena yang ditanyakan adalah apakah metode biuret presisinya lebih baik dibanding metode kjeldahl.

  • Hipotesa

H0 = presisi metode biuret = metode kjeldahl (s2biuret=s2kjeldahl)

H1 = presisi metode biuret lebih baik dibanding metode kjeldahl (s2biuret < s2kjeldahl)

  • Kriteria Uji :

Tolak H0 jika Fhitung ≥ Fα (db1; db2) atau Ftabel

Fhitung = (0,0437)2 / (0,0373)2  = 1,373

Ftabel (satu arah, db1&2=5) = 5,050 pada tingkat kepercayaan 95 %

  • Jadi Fhitung < Ftabel
  • Kesimpulan

Terima H0, presisi metode biuret sama dengan metode kjeldahl  pada tingkat kepercayaan 95 %

Daftar Pustaka

Modul “Kursus Pengolahan Data Hasil Validasi Metode Analisis Kimia” Bandung 19 – 23 Juni 2006 RCChem Learning Centre

Contoh 1 Uji-F Satu Arah

Pertanyaan :

Metode baru (titrasi) diusulkan untuk penentuan suatu analit dalam contoh bahan pertanian dibandingkan dengan metode standar. Hasil berikut diperoleh dari pengujian sampel yang diulang sebanyak 10 kali (n=10)Contoh Uji F WP

 

Apakah metode baru yang diajukan lebih presisi dibandingkan metode standar ?

Jawaban :

Perlu diuji apakah standar deviasi dari metode baru tersebut lebih besar daripada metode standar dengan uji-F satu arah karena yang ditanyakan adalah apakah metode baru presisinya kurang dibanding metode standarnya

  • Hipotesa

H0 = presisi metode baru = metode lama (s2baru=s2lama)

H1 = presisi metode baru kurang baik dibanding metode lama (s2baru > s2lama)

  • Kriteria Uji :

Tolak H0 jika Fhitung ≥ Fα (db1; db2) atau Ftabel

Fhitung = (2,72)2 / (1,52)2  = 3,202

Ftabel (satu arah, db1&2=9) = 3,184 pada tingkat kepercayaan 95 %

  • Jadi Fhitung > Ftabel
  • Kesimpulan

Tolak H0, presisi metode baru kurang baik daripada metode standar pada tingkat kepercayaan 95 %

Contoh 2 Uji-F satu arah

Daftar Pustaka

Modul “Kursus Pengolahan Data Hasil Validasi Metode Analisis Kimia” Bandung 19 – 23 Juni 2006 RCChem Learning Centre

Uji F

Pada uji-F yang dibandingkan adalah dua buah variansi (s2) yang diperoleh dari dua set data sehingga yang terdeteksi adalah kesalah acaknya (random error).
Rumus statistik yang dipergunakan dalam uji-F sebagai berikut :

Variansi

Sedangkan cara menghitung uji-F :

Uji F

dimana s1 dan s2 dipoisisikan sedemikian rupa sehingga F selalu ≥ 1 (s1>s2)

Ada dua jenis uji-F yaitu uji-F satu arah dan uji-F dua arah. Perbedaan keduanya sebagai berikut :

  • Nilai kritis F-nya berbeda dimana nilai F kritis satu arah < dua arah
  • Uji-F satu arah untuk mengetahui apakah metode A lebih presisi daripada metode B atau apakah variansi kumpulan data A lebih besar / kecil dibandingkan variansi dari kumpulan data B.
  • Uji-F dua arah untuk mengetahui apakah metode A berbeda presisinya secara signifikan dengan metode B atau apakah variansi kumpulan data A berbeda secara signifikan dengan variansi dari kumpulan data B.

Daftar Pustaka

Modul “Kursus Pengolahan Data Hasil Validasi Metode Analisis Kimia” Bandung 19 – 23 Juni 2006 RCChem Learning Centre