Korosif (corrosive – C)

Korosif (corrosive – C)

Limbah B3 korosif adalah Limbah yang memiliki salah satu atau lebih sifat-sifat berikut:

  1. Limbah dengan pH sama atau kurang dari 2 (dua) untuk Limbah bersifat asam dan sama atau lebih besar dari 12,5 (dua belas koma lima) untuk yang bersifat basa. Sifat korosif dari Limbah padat dilakukan dengan mencampurkan Limbah dengan air sesuai dengan metode yang berlaku dan jika limbah dengan pH lebih kecil atau sama dengan 2 (dua) untuk Limbah bersifat asam dan pH lebih besar atau sama dengan 12,5 (dua belas koma lima) untuk yang bersifat basa; dan/atau
  2. Limbah yang menyebabkan tingkat iritasi yang ditandai dengan adanya kemerahan atau eritema dan pembengkakan atau edema. Sifat ini dapat diketahui dengan melakukan pengujian pada hewan uji mencit dengan menggunakan metode yang berlaku.

PP No. 101 Tahun 2014 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun

SNI 7184.4:2010 Karakteristik limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) – Bagian 4: Cara uji laju korosi dari limbah cair dan semi padat dengan metode Coupon

United State Environmental Protection Agency (US EPA) SW 846-1110a , 2004, Corrosivity Toward Steel

United State Environmental Protection Agency (US EPA) SW 846-9040C, 2004, pH Electrometric Measurement

 

Reaktif (reactive – R)

Reaktif (reactive – R)

Limbah B3 reaktif adalah Limbah yang memiliki salah satu atau lebih sifat-sifat berikut:

  1. Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan. Limbah ini secara visual menunjukkan adanya antara lain gelembung gas, asap, dan perubahan warna;
  2. Limbah yang jika bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap. Sifat ini dapat diketahui secara langsung tanpa melalui pengujian di laboratorium; dan/atau
  3. Merupakan Limbah sianida, sulfida yang pada kondisi pH antara 2 (dua) dan 12,5 (dua belas koma lima) dapat menghasilkan gas, uap, atau asap beracun. Sifat ini dapat diketahui melalui pengujian Limbah yang dilakukan secara kualitatif.

PP No. 101 Tahun 2014 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun

Sulfida (S2-) dan Hidrogen Sulfida (H2S)

Hidrogen sulfida (ditulis H2S(aq) atau H2S(g), tergantung dalam bentuk terlarut atau gas)cukup terlarut air, gas tidak berwarna dengan bau yang tidak menyenangkan khas telur busuk. Dalam air, terbentuk dalam dua langkah reaksi ketika anion sulfida (S2-) bereaksi secara reversibel dengan air untuk membentuk anion hidrosulfida (HS) dan H2S(aq)  terlarut (persamaan 1 dan 2)

S2- + H2O <-> HS + OH                     (1)

HS + H2O <-> H2S(aq) + OH               (2)

Dalam air yang kontak dengan udara, beberapa H2S(aq) terlarut akan terpartisi dengan udara sebagai H2S(gas).

Persamaan 3 adalah keseluruhan reaksi reversible sulfida dengan  air, ditulis hanya spesies sulfidanya.

S2- <-> HS <-> H2S(aq) <-> H2S(gas)     (3)

S2- dan HS terlarut, anion non volatile  tanpa bau. H2S(aq)  adalah gas terlarut (solubility = 4000 mg/L pada 20oC) yang dapat memberikan rasa apek atau seperti rawa pada air dengan konsentrasi kurang dari 1 mg/L. Bau air dengan minimal 0,5 mg/L hidrogen sulfida terdeteksi seperti bau saluran pembuangan oleh kebanyakan orang. Pada konsentrasi 1-2 ppm, hydrogen sulfida terlarut memberi bau telur busuk yang kuat di air dan membuat air korosif terhadap logam dan semen. Secara umum, beberapa deteksi hydrogen terlarut baik dengan rasa dan bau telur busuk membuat air tidak layak dikonsumsi meskipun masih dibawah level beracun yang berbahaya. Analisis , tiga spesies sulfur terlarut, S2-, HS, dan H2S(aq) secara keseluruhan disebut total sulfida atau sulfida.

Pada kesetimbangan, distribusi diantara spesies sulfur terlarut (S2-, HS, dan H2S(aq)) di air tergantung terutama pada pH dan sedikit pada temperatur . Proporsi gas hidrogen sulfida terlarut meningkat dengan penurunan pH, dimana pH air kurang dari 7,5, potensi untuk membentuk H2S(gas) meningkat.

  • Pada <pH 5, sedikitnya 99 % sulfida terlarut dalam bentuk H2S(aq), bentuk unionized.
  • Pada pH 7, sulfida terlarut dalam bentuk 50 % HS dan 50% H2S(aq)
  • Pada pH 9, sekitar 99 % dalam bentuk HS.
  • S2- menjadi terukur di atas pH 10.

Daftar Pustaka

Eugene R. Weiner. Application of Environmental Aquatic Chemistry. A Practical Guide. Third edition. CRC Press

Rules Of Thumb Ammonia/Ammonium Ion

1. The percentage of dissolved total ammonia (NH3 + NH4+) present in the unionized form (NH3) increases as either pH or temperature increases.

2. Ammonia toxicity to aquatic life is mainly due to unionized  NH3 form.

3. An increase in either pH or temperature shifts the equilibrium of equation NH3 + H2O <-> NH4+ + OH , to the left, favoring NH3, the toxic form.

4. At 20 oC and pH>9.3, the equilibrium of equation NH3 + H2O <-> NH4+ + OH is mainly to the left, with NH3 (the toxic form) > 50%

5. At 20 oC and pH<9.3, the equilibrium of equation NH3 + H2O <-> NH4+ + OH is mainly to the right, with NH4+ (the non toxic form) > 50%

6. NH3, concentrations >0.5 mg NH3-N/L cause significant toxicity to fish

7. The unionized form is volatile (air-strippable), and the ionized form is nonvolatile

Reference

Eugene R. Weiner. Application of Environmental Aquatic Chemistry. A Practical Guide. Third edition. CRC Press

Ammonia vs Ammonium Ion

Ammonia terlarut bereaksi dengan air sebagai basa, menaikkan pH dengan menghasilkan ion OH. Berdasarkan persamaan reaksi di bawah ini :

NH3 + H2O <-> NH4+ + OH

Kesetimbangan persamaan di atas tergantung pH dan temperature. Pada analisis laboratorium untuk total nitrogen ammonia (NH3 + NH4+), pH diadjust menjadi 11 atau lebih besar untuk memastikan semua nitrogen ammonia dalam bentuk NH3.  Untuk analisa ion ammonium  (NH4+) yang terpercaya, sampel harus segera dianalisa setelah disampling untuk menghindari perubahan pH dan temperature selama penyimpanan. Jika analisis tidak dapat segera dilakukan di tempat sampling, laboratorium dapat menggunakan pengukuran pH dan temperature di lapangan untuk menghitung distribusi awal NH3 dan NH4+ dalam sampel dari analisa total nitrogen ammonia. Bisa mampir ke sini untuk perhitungan unionized ammonia. Karena the unionized form  lebih beracun untuk kehidupan air dibandingkan the ionized form, pengukuran lapangan untuk pH dan temperature air saat sampling sangat penting. Alasan kenapa yang bentuk the unionized form (NH3) lebih beracun karena tidak bermuatan (not electrically charged), molekul NH3 dapat masuk lebih mudah melalui membrane penafasan ikan dibandingkan ion ammonium, nitrit atau nitrat (NH4+, NO2, dan NO3).

Dua bentuk ammonia tersebut memiliki perbedaan mobilitas di lingkungan. Meskipun kation ammonium lebih tinggi kelarutannya, sebagian akan sorb secara kuat pada muatan sisi negative pada permukaan mineral, dimana ia bergerak secara efektif. Unionized ammonia juga larut karena dapat membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air, tapi tidak ter sorb kuat dengan mineral sehingga mudah ditransportasikan dengan aliran air. Bagaimanapun, unionized ammonia juga volatile dan sebagian akan berpartisi dari air ke atmosfer. Jika sedimen tersuspensi membawa sorbed NH4+ dibawa aliran ke daerah dengan pH tinggi, sebagian akan terkonversi menjadi NH3, yang akan desorb dan menjadi tersedia untuk bentuk kehidupan air sebagai polutan beracun dan tervolatlisasi ke atmosfer.

Daftar Pustaka

Eugene R. Weiner. Application of Environmental Aquatic Chemistry. A Practical Guide. Third edition. CRC Press