Aspek Lingkungan Pemanfaatan Batubara

econ_coal18__01__630x420

Gambar 1. Batubara

Selama pembakaran atau konversi batubara, beberapa senyawa dapat terbentuk, beberapa diantaranya bersifat karsinogenik. Batubara mengandung nitrogen, oksigen dan sulfur sebagai komponen volatile dan mineral yang tersisa sebagai ash ketika batubara dibakar. Dengan demikian beberapa produk hasil pembakaran batubara dapat memiliki efek merugikan pada lingkungan. Sebagai contoh, pembakaran batubara menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan kadar CO2 di atmosfir bumi dapat meningkat sehingga perubahan iklim di bumi akan terjadi. Juga, sulfur dan nitrogen di batubara dalam bentuk oksida [sulfur dioxide (SO2), sulfur trioxide (SO3), nitric oxide (NO) dan  nitrogen dioxide (NO2)] selama pembakaran dapat berkontribusi terbentuknya hujan asam.

Sebagai tambahan, pembakaran batubara menghasilkan particulate matter (flash ash) yang dapat ditransportasikan oleh angin hingga ratusan kilometer dan solids (bottom ash dan slag) yang harus dibuang. Trace element yang terkandung di batubara dapat terlepas sebagai bahan volatile (misalnya chlorine dan merkuri) dan terkonsentrat dalam ash ( misalnya arsenic dan barium).   

Semua hal di atas tentu menjadi perhatian karena berhubungan dengan lingkungan. Dengan kemajuan teknologi beberapa polutan dapat di”trap” menggunakan peralatan  seperti electrostatic precipitators, baghouses, and scrubbers.

Electrostatic Precipitator

Gambar 2. Electrostatic Precipitators

baghouse-diagram

Gambar 3. Baghouese

Alternatif sarana untuk pembakaran (misalnya fluidized bed combustion, magnetohydrodynamic, dan low nitrogen dioxide burners) juga tersedia untuk memberikan metode yang lebih efisien dan ramah lingkungan untuk mengkonversi batubara menjadi energi.

Daftar Pustaka

James G. Speight. Synthetic Fuels Handbook Properties, Process, and Performance. 2008. The McGraw-Hill Companies, Inc

Gambar 1 :

http://www.businessweek.com/articles/2012-04-26/coals-future-is-rocky-at-best

Gambar 2 :

http://www.neundorfer.com/knowledge_base/electrostatic_precipitators.aspx

Gambar 3 :

http://www.nachi.org/baghouse-inspection.htm

Iklan

Air Raksa

Air raksa atau merkuri (Hg) adalah logam berwujud cair yang ditemukan dalam endapan alam seperti bijih bersama unsur-unsur lainnya. Air raksa dipergunakan sebagai produk elektrik seperti batu baterai sel kering, lampu neon, switch, dan lain-lain. Sumber utama air raksa dalam air minum adalah erosi endapan alam, debit dari kilang dan pabrik, limpasan dari tempat pembuangan sampah, dan limpasan dari lahan pertanian. Metode perlakuan berikut  telah terbukti efektif untuk menghilangkan air raksa di bawah 0,002 mg/L atau 2 ppb yaitu koagulasi / filtrasi, karbon aktif granular, lime softening, dan reverse osmosis.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, air raksa termasuk parameter tambahan kimiawi anorganik. Kadar maksimun air raksa yang diperbolehkan adalah 0,001 mg/l.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air Kelas satu yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut kadar maksimum air raksa yang diperbolehkan adalah 0,001 mg/l.

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut kadar maksimun air raksa yang diperbolehkan adalah 0,001 mg/l.

Analisa merkuri di air laut menggunakan SNI 19-6964.2-2003 yaitu cara uji merkuri (Hg) secara cold vapour dengan spektrofotometer serapan atom atau mercury analyzer. Ruang lingkup metode ini untuk kadar  0,0 µg/l – 10 µg/l. Prinsip metode ini adalah senyawa merkuri dalam contoh uji air laut dioksidasi menjadi ion merkuri oleh KMnO4 dalam suasana asam. Ion merkuri kemudian direduksi menjadi atom merkuri oleh SnCl2. Atom merkuri yang terbentuk kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom atau mercury analyzer.

Daftar Pustaka

  1.  http://www.epa.gov
  2. SNI 19-6964.2-2003 yaitu cara uji merkuri (Hg) secara cold vapour dengan spektrofotometer serapan atom atau mercury analyzer.

SNI B3

No. Nomor SNI Judul Ruang Lingkup
1.         SNI 06-6990.1-2004 Air – Bagian1: Cara uji pestisida organoklorin secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM) Standar ini digunakan untuk penentuan kadar pestisida organoklorin dalam air secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM).

Standar ini digunakan untuk penentuan parameter pestisida organoklorin dengan kisaran kadar minimal 4 sampai 1000 kali MDL (lihat lampiran) untuk parameter Aldrin, Lindan, Endrin, Metoxychlor, p,p-DDT, o,p-DDT, o,p-DDD, o,p-DDE, p,p-DDE, Heptachlor.

2.         SNI 06-6990.1-2004 Tanah – Bagian 1: Cara uji pestisida organoklorin secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM) Standar ini digunakan untuk penentuan kadar pestisida organoklorin dalam tanah secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM).

Standar ini digunakan untuk menentukan parameter pestisida organoklorin dengan kisaran kadar minimal 4 sampai 1000 kali MDL (lihat lampiran A) untuk parameter Aldrin Lindan; Endrin; Metoxychlor; p,p-DDT; o,p-DDT; o,p-DDD; o,p-DDE; p,p-DDE; Heptachlor

3.         SNI 06-6992.1-2004 Sedimen – Bagian 1: Cara uji pestisida organoklorin secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa (KG-SM) Standar ini digunakan untuk penentuan kadar pestisida organoklorin dalam sedimen secara ekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan kromatografi gas-spektrofotometer massa (KG-SM).

Standar ini digunakan untuk menentukan parameter pestisida organoklorin dengan kisaran kadar minimal 4 sampai 1000 kali MDL (lihat lampiran A) untuk parameter Aldrin Lindan; Endrin; Metoxychlor; p,p-DDT; o,p-DDT; o,p-DDD; o,p-DDE; p,p-DDE; Heptachlor.

4.         SNI 06-6992.2-2004 Sedimen – Bagian 2: Cara uji merkuri (Hg) secara uap dingin (cold vapour) dengan Mercury Analyzer Standar ini digunakan untuk penentuan merkuri, Hg dalam sedimen secara uap dingin (cold vapour) dengan Mercury Analyzer pada kadar terendah 5,0 ng/g.

 

5.         SNI 06-6992.3-2004 Sedimen – Bagian 3: Cara uji timbal (Pb) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan timbal, Pb dalam sedimen secara destruksi asam dengan spektrofotometer serapan atom (SSA) pada kadar terendah 0.07 μg/g.

 

6.         SNI 06-6992.4-2004 Sedimen – Bagian 4: Cara uji kadmium (Cd) secara destruksi  asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan kadmium, Cd dalam sedimen secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada kadar terendah 0,01μg/g.
7.         SNI 06-6992.5-2004 Sedimen – Bagian 5: Cara uji tembaga (Cu) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan tembaga, Cu dalam sedimen secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada kadar terendah 0,04 μg/g.
8.         SNI 06-6992.6-2004 Sedimen – Bagian 6: Cara uji nikel (Ni) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan nikel, Ni dalam sedimen secara destruksi asam dengan spektrofotometer serapan atom (SSA) pada kadar terendah 0,31μg/g.
9.         SNI 06-6992.7-2004 Sedimen – bagian 7: Cara uji mangan (Mn) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan mangan, Mn dalam sedimen secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada kadar terendah 0,15 μg/g.
10.     SNI 06-6992.8-2004 Sedimen – Bagian 8: Cara uji seng (Zn) secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) Standar ini digunakan untuk penentuan seng, Zn dalam sedimen secara destruksi asam dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada kadar terendah 0,06 μg/g.
11.     SNI 7332:2009 Cara uji Polychlorinated Biphenyls (PCBS) dalam tanah dan sedimen secara ekstraksi mengunakan pelarut n– heksana dengan Kromatografi Gas – Detektor Penangkap Elektron (KG-DPE) Standar ini digukan untuk penetuan kadar PCBS dalam tanah dan sedimen secara ekstraksi mengunakan pelarut aseton dan n-heksana dengan kromatografi Gas-Detektor penangkap Elektron (KG-DPE).

Standar ini digunakan untuk menetukan parameter PCBS dengan kisaran kadar minimal 4 sampai 1000 kali MDL (lihat lampiran A.)

12.     SNI 7333:2009 Cara uji Polychlorinated Biphenyls (PCBS) dalam air secara ekstraksi mengunakan pelarut n–heksana dengan Kromatografi Gas – Detektor penangkap Elektron (KG-DPE) Standar ini digunakan untuk penentuan kadar PCBs dalam air  secara ekstraksi menggunakan pelarut aseton:n-heksana (1:1)  dengan Kromatografi Gas-Detektor  Penangkap Elektron (KG-DPE).

Standar ini digunakan untuk menentukan parameter PCBs dengan kisaran kadar minimal 4 sampai 1000 kali MDL (lihat Lampiran A).

13.     SNI 7184.4:2010 Karakteristik limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) – Bagian 4: Cara uji laju korosi dari limbah cair dan semi padat dengan metode Coupon Metode ini digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan laju korosi pada limbah cair dan semi padat