Perhitungan Emisi CO2

Aku pernah bertanya pada teman, bagaimana mendapatkan emisi CO2 dalam ton CO2 ? Seperti kita ketahui untuk mendapatkan emisi CO2 dengan menggunakan rumus konsumsi bahan bakar dikali factor emisi CO2. Konsumsi bahan bakar dalam Kilo Liter sedangkan factor emisi memiliki satuan Kg CO2/TJ. Pada akhirnya didapat emisi CO2 dalam satuan  ton atau Gigaton. Setelah beberapa lama akhirnya temanku  memberikan jawabannya. Berikut adalah perhitungan lengkapnya :
1. Konsumsi dalam Kilo Liter (KL) dikonversi menjadi BOE
Dari 2016 Handbook of Energy & Economic Statistic of Indonesia diketahui faktor pengali KL ke BOE sebagai berikut :
Faktor Konversi.jpg
2. Konversi BOE ke Joule
Dimana 1 BOE ~ 6,118 x 109 Joule
1 Joule = 10-12 TJ
Sebagai tambahan, BOE dalam bahasa Indonesia adalah SBM (Setara Barrel Minyak)
3. Emisi CO2
Konsumsi sudah dalam satuan TJ maka dengan mengalikan dengan factor emisi CO2 akan didapatkan satuan akhir emisi CO2 dalam kg CO2 . Tinggal dikonversi dari kg CO2 ke ton CO2 atau Gigaton CO2.

CHN Analyzer

Salah satu alat yang ada di laboratoriumku adalah Carbon, Hydrogen and Nitrogen Analyzer (CHN Analyzer). Buatan LECO. Alat ini bisa dilihat untuk analisa apa dari namanya dan untuk sampel organik. Prinsip alat ini adalah combustion analyzer. Sampel dibakar dengan bantuan oksigen dan berubah jadi gas-gas dan dideteksi dengan detektor. Di laboratorium digunakan untuk mengetahui kadar karbon di BBM seperti kerosin, avtur, solar dan minyak bakar. Yang penting sampelnya tidak volatil. Kadar karbon ini digunakan untuk menghitung faktor emisi (FE) CO2 BBM. Selain itu dibutuhkan data NCV (Net Caloric Value) juga untuk menghitung FE ini. Dari sini bisa diperkirakan emisi CO2 yang dilepaskan dengan mengalikan dengan konsumsi BBM yang digunakan. Ini untuk penggunaan Tier 2 dari IPCC dimana FE yang digunakan adalah milik negara tersebut. Kalau mau lebih mudah tinggal menggunakan Tier 1 IPCC, disana sudah ada nilai FE tiap BBM. Mengapa repot-repot mencari FE tiap BBM di negara sendiri ? Kalau Tier 1 khan dihitung secara global, kalau mau lebih real harus dihitung dengan FE negara tersebut. Komposisi kimia BBM dan NCV tiap negara khan berbeda berarti akan ada perbedaan juga pada nilai FE-nya. Engga banyak sich perbedaannya tapi tetap beda khan 🙂

Itu penggunaan alat ini  di lingkungan. Beda lagi kalau didunia pembuatan BBM. Soalnya penelitianku yang satunya lagi menggunakan alat ini untuk mengetahui rasio mol H/C dari sampel penelitian. Sedangkan nitrogennya untuk melihat penurunannya. Karena di BBM nitrogen termasuk pengotor dan kadarnya dibatasi. Penelitiannya menggunakan proses hidrotreating dan hidrokraking. Kalau hidrotreating hanya untuk mengurangi pengotor seperti nitrogen, sulfur, oksigen dan penjenuhan ikatan rangkap. Tidak sampai memecah struktur kimia. Kalau hidrokraking yach sampai terjadi pemecahan struktur kimia. Kedua proses ini menggunakan gas hidrogen, sehingga diharapkan kadar hidrogen di sampel naik dan diperlihatkan dengan kenaikkan rasio mol H/C. Karena sampel kami seperti minyak berat yang kemudian didistilasi untuk mendapatkan fraksi-fraksinya. Kemudian fraksi ini ditingkatkan mutunya dengan dua proses katalitik diatas.

Alat dari LECO ini mudah digunakan dan perawatannya juga engga sulit. Soalnya dulu pernah menggunakan CHN analyzer dari merk lain dan itu sangat sulit. Sampel ditimbangnya dalam ukuran mikro (sekitar 20 mg) sehingga dibutuhkan micro balance. Bayangkan kalau sampelnya minyak bumi dan mesti ditimbang maksimal 20 mg. Itu bukan setetes loh, kurang dari itu :-(. Kalau analisnya terampil mungkin engga jadi masalah ;-).

Kalau butuh jasa laboratorium untuk analisa CHN sampel organik bisa hubungi kantorku :-). Biasanya kami nerima sampel seperti crude oil (ASTM D 5291),  bbm non volatile (ASTM D 5291) , batubara (ASTM D 5373) dan biomassa. Soal biaya analisa bisa ditanyakan langsung ke bagian penerima sampel 😉

Gambar alat diambil dari http://www.leco.com