Bentuk Penulisan Orthophosphate

Dalam hasil analisa orthophosphate (PO43-)dapat ditampilkan dengan dua cara yaitu

  • PO43- diucapkan sebagai “orthophosphate”
  • PO4-P diucapkan sebagai “orthophosphate sebagai phosphorus”

Perbedaan antara dua bentuk ini sangat penting. Hasil PO43- merupakan kombinasi phosphorus dan oksigen dalam senyawa, sedangkan  PO43-P hanya memperhatikan phosphorus dalam senyawa.

Pemikirannya seperti ini, jika anda memiliki “pertanian” bakteri, dan bakteri ini hanya memakan phosphorus, anda menginginkan mengetahui berapa jumlah phosphorus yang dapat dimakan dalam makananmu. Anda tidak tidak peduli berapa jumlah oksigen yang terikat dengan phosphorus karena bakteri tidak peduli juga. Anda akan menampilkan hasil analisa sebagai PO43-P. Jika anda bertani beberapa bakteri berbeda dan mereka memakan phosphorus dan oksigen, anda akan menampilkan hasil analisa sebagai PO43-.

Bagaimana cara mengubah dari PO4-P menjadi PO43- ? Caranya mudah, mengubah dari bentuk pertama dan satuan kedua hanya masalah bobot molekul. Contohnya sebagai berikut :

Diketahui sampel air mengandung 1,0 mg/L  ppm PO4-P. Bagaimana mengubahnya menjadi PO43- ?

Konsentrasi PO43-= Konsentrasi PO4-P X (BM PO43 / BM P)

Konsentrasi PO43-= 1,0 mg/L X ((31+(16*4)) g/mol  /  31 g/mol)

Konsentrasi PO43-= 1,0 mg/L X 3,06

Konsentrasi PO43-= 3,06 mg/L

Dengan kata lain, keseluruhan senyawa orthophosphate adalah 3,06 lebih berat dibandingkan phosphorus itu sendiri.

Penting untuk disadari bahwa analisa ini hanya mengukur orthophosphat, jadi rasio 3,06 ini hanya mengubah hasil orthophosphate antara dua spesies. Itu tidak mengubah hasilnya menjadi total phosphorus karena analisanya berbeda dimana dibutuhkan digestion dengan asam sulfat dan kalium persulfat. Cara mudahnya, tanyakan kepada analis apakah dia melakukan digestion terlebih dahulu terhadap sampel. Jika jawabannya tidak maka hasil yang ditampilkan hanya orthophosphate dan bukan total phosphorus.

Daftar Pustaka

https://www.hach.com/asset-get.download.jsa?id=50989301315

 

Orthophosphate

Struktur orthophosphate diperlihatkan gambar 1. Satu atom phosphorus mengikat empat atom oksigen.

Gambar 1. Struktur Orthophosphate

Orthophosphate sering disebut “phosphate” dan “reactive phosphorus” karena sangat mudah membuat ikatan dengan elemen positif  dan senyawa lainnya akibat memiliki tiga “ekstra” electron yang dapat berikatan kuat dengan proton.

Metode untuk analisa orthophosphate  diantara menggunakan metode kolorimetri yaitu :

  • Metode Asam Askorbat /”biru”
  • Metode Molybdovanadate/”kuning”

Kedua metode tersebut mereaksikan orthophosphate dengan molybdate dalam suasana asam tapi berbeda bagaimana mereka membentuk senyawa akhir, yang membentuk warna biru atau kuning. Perlu menjadi perhatian dari penggunaan metode-metode ini, beberapa condesensed phosphate dapat juga terukur. Karena keasaman kimia, beberapa particulate orthophosphate dapat terdeteksi jika sampel tidak disaring terlebih dahulu dengan 0,45 mikron. Untuk mengukur semua particulate orthophosphate lebih baik menggunakan analisa total phosphorus yang menggabungkan digestion yang keras untuk mengonversi sebagian besar particulate phosphate ke phosphate terlarut.

Daftar Pustaka

https://www.hach.com/asset-get.download.jsa?id=50989301315

Reaksi Kimia Analisa Klorida dengan Metode Merkuri Tiosianat

Analisa klorida dapat dilakukan dengan beberapa metode.  Metode Merkuri Nitrat dapat dibaca di sini. Metode Argentometri Mohr dapat dibaca di sini. Tulisan ini akan membahas reaksi kimia yang terjadi pada metode Merkuri Tiosianat. Tahapannya sebagai berikut :

Metode ini merupakan penentuan dengan kolorimetri. Klorida (Cl) dalam sampel bereaksi dengan Merkuri (II) Thiosianat (Hg(SCN)2) menghasilkan Merkuri (II) Klorida (HgCl2)  dan ion Tiosianat (SCN) bebas.

Hg(SCN)2 + 2Cl –> HgCl2 + 2SCN

Dengan adanya ion Ferri (Fe3+), SCN membentuk Ferri (III) Tiosianat (Fe(SCN)3) sangat berwarna (merah-orange) yang sebanding dengan konsentrasi klorida.

Fe3+ + 3SCN –> Fe(SCN)3

Daftar Pustaka

http://www.hach.com

Reaksi Kimia Analisa Klorida dengan Metode Argentometri Mohr

Analisa klorida dapat dilakukan dengan beberapa metode.  Metode Merkuri Nitrat dapat dibaca disini. Tulisan ini akan membahas reaksi kimia yang terjadi pada metode argentometri mohr. Tahapannya sebagai berikut :

Metode ini menggunakan perak nitrat (AgNO3) sebagai titran dan kalium kromat (K2CrO4) sebagai indikator. Pertama, AgNO3 akan bereaksi dengan klorida (Cl) yang ada disampel menghasilkan endapan tidak larut berwarna putih perak klorida (AgCl).

AgNO3 + K2CrO4 + Cl –> AgCl + NO3 + K2CrO4

Setelah semua Cl diendapkan, AgNO3 akan bereaksi dengan K2CrO4 membentuk endapan  perak kromat (Ag2CrO4)berwarna orange sebagai tanda titik akhir titrasi.

2 AgNO3 + K2CrO4 —> Ag2CrO4 + 2 KNO3

Daftar Pustaka

http://www.hach.com

Reaksi Kimia Analisa Klorida dengan Metode Merkuri Nitrat

Analisa klorida dapat dilakukan dengan beberapa metode.  Tulisan ini akan membahas reaksi kimia yang terjadi pada metode merkuri nitrat. Tahapannya sebagai berikut :

Merkuri(II) nitrat ( Hg(NO3)2 ) bereaksi dengan ion klorida (Cl) yang ada dalam sampel menghasilkan merkuri(II)  klorida (HgCl2) dan ion nitrat (NO3).

Hg(NO3)2 + 2Cl –> HgCl2 + 2NO3

Ketika semua Cl- dalam sampel sudah terkomplek, sisa ion merkuri bereaksi dengan Diphenylcarbazone membentuk kompleks berwarna ungu yang mengindikasikan titik akhir.

Reaksi Klorida2

ion merkuri      diphenylcarbazone                    Kompleks Merkuri-diphenylcarbazone

Daftar Pustaka

  1. http://www.hach.com
  2. M. A. Sameer Abdulaziz, K. Basavaiah and K. B. Vinay. Titrimetric  And Spectrophotometric Assay of Bupropion Hydrochloride in Pharmaceuticals Using Mercury(II) Nitrate.  http://www.scielo.br/eq Volume 35, número 3, 2010.