Bioremediasi (Bagian 3)

KRITERIA HASIL AKHIR PENGOLAHAN

Hasil akhir dari Proses Pengolahan secara biologis harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1.  Limbah

Parameter1

2. Limbah Cair

Limbah cair yang dibuang ke media lingkungan harus memenuhi KepMen baku mutu limbah cair yang terkait (KepMen 42/1996)

3. Air tanah pada sumur pantau

Sampel air tanah diambil pada sumur pantau yang ada di hulu dan hilir kemudian dianalisis pH, EC (Electrical Conductivity) dan TPH.

 4. Uji toksikologi

Uji toksikologi dilakukan terhadap limbah hasil olahan minimum 1 (satu) kali pengujian dari jenis limbah yang sama untuk menetapkan nilai LD50 (Lethal Dose fifty). Nilai dari LD50 yang dipersyaratkan adalah  tidak boleh kurang dari (<) 15 gram per kilogram berat badan dari hewan uji.

Masih ada kelanjutan dari peraturan ini tapi saya hanya sampai parameter uji yang dianalisa. Selanjutnya untuk lebih lengkap bisa dibaca Kepmen LH No. 128 Tahun 2003.

Iklan

Bioremediasi (Bagian 2)

Evaluasi kinerja pengolahan

  1. Keberhasilan proses pengolahan secara biologis dalam menurunkan kadar TPH/ oil content sampai memenuhi criteria yang dipersyaratkan dievaluasi untuk melihat efektifitas penguraian limbah minyak bumi secara biologis dengan ketentuan waktu maksimum pengolahan adalah 8 (delapan) bulan.
  2. Jika  proses  pengolahan memakan waktu  lebih  dari  8  (delapan)  bulan, maka evaluasi ulang dilakukan untuk meningkatkan kinerja proses pengolahannya.

KRITERIA HASIL AKHIR PENGOLAHAN

Selama proses pengolahan secara biologis ini dilakukan, maka beberapa parameter dianalisis dengan

ketentuan sebagai berikut :

  1. Analisis limbah :

a. Analisis Kimia

Parameter

b. Analisis pendukung

–          Analisis terhadap produk hasil penguraian limbah minyak bumi (TPH) akibat kegiatan mikrobiologis  dapat  dilakukan  untuk melihat  komponen  dan  konsentrasi  senyawa hidrokarbon, seperti senyawa yang terdapat di dalam kelompok C6-C15.

–          Analisis  terhadap parameter yang berhubungan dengan proses mikrobiologis dapat dilakukan sebagai data pendukung untuk efektifnya pengolahan, diantaranya adalah penghitungan  jumlah  total bakteri, biomassa unsure  karbon, pengukuran  respirasi, fiksasi nitrogen dan lain-lain.

2. Analisis sampel air tanah dari sumur pantau

Sampel air tanah diambil dari sumur pantau yang dipasang secara representatif di daerah hulu dan hilir minimum pada saat awal operasi, selama proses dan akhir operasi. Parameter yang diukur adalah pH dan Electrical conductivity (EC) yang diukur minimum 2 minggu sekali serta analisis konsentrasi TPH minimum 3 (tiga) bulan sekali.

3. Analisis sampel tanah

Pada  kondisi  air  tanah dalam  (> 50 m), maka  cukup  sample  tanah  yang dianalisis untuk konsentrasi TPH dengan pengambilan sample tanaha pada kedalaman 2 m di bawah lapisan paling dasar unit pengolahan minimum 1 (satu) bulan sekali.

4. Analisis sample air lindi

Analisis sample air luapan atau lindi yang dibuang ke lingkungan diperlukan sebagai limbah cair mengacu kepada KepMen LH No. 42/1996 jo. KepMen LH No. 09/1997 (baku mutu limbah cair bagi kegiatan minyak, gas dan panas bumi) minimum 1 (satu) bulan sekali.

bersambung

Bioremediasi (Bagian 1)

Hari ini (28/02/2013)  membaca kasus lingkungan yang menimpa perusahaan minyak besar di harian ibukota. Di harian tersebut tertulis tentang peraturan yang aku baru tahu yaitu Kepmen LH No. 128 Tahun 2003. Peraturan ini adalah Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi secara Biologis. Belum pernah membacanya karena belum pernah mempergunakannya dalam pekerjaan di kantor. Walaupun kalau ditanya ke teman satu kelompok yang lulusan Teknik Lingkungan mereka pasti tahu peraturan ini 🙂

Penasaran dengan isinya makanya coba dibaca peraturan ini. Hasilnya ada hal teknis yang dibahas di lampirannya. Ini baru menarik, karena jarang-jarang peraturan memuat hal teknis (setidaknya peraturan yang pernah saya baca). Kebiasaan aku kalau baca peraturan hanya bagian lampiran yang ada baku mutu untuk parameter pengujian laboratorium. Padahal bagian atas dari peraturan itu penting juga dibaca loh diantara definisinya yang berhubungan dengan parameter pengujian. Terkadang dibaca juga sich kalau ada waktu luang atau yang paling gampang, tanya ama teman-teman yang lulusan Teknik Lingkungan 🙂

Kembali ke hal teknis peraturan tersebut, tulisan dibawah adalah ringkasan yang aku buat untuk mengingatnya:

Setiap usaha dan  atau  kegiatan minyak dan gas bumi  serta  kegiatan  lain  yang menghasilkan limbah minyak bumi wajib melakukan pengolahan limbahnya.

Sebelum melakukan pengolahan limbah minyak bumi dengan metoda biologis, maka perlu dilakukan analisis terhadap bahan yang diolah untuk mengetahui komposisi dan karakteristik limbah yang terdiri dari:

  1. Kandungan minyak atau oil content (bila kandungan minyak relatif besar) dan/ atau Total Petroleum Hydrocarbon / TPH (bila kandungan minyak relative kecil)
  2. Kandungan total logam berat;
  3. Uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) logam berat.

Prosedur persiapan contoh dan metode analisis untuk mengidentifikasi limbah tersebut adalah sebagai berikut :

Analisis Metoda
TPH USEPA SW 846, Spektrofotometri
Oil Content Ekstraksi, Spektrofotometri infra merah
Total Logam Berat Spektrofotometri serapan atom
TCLP USEPA 1311

Persyaratan limbah minyak bumi yang diolah secara biologis adalah sebagai berikut:

a)  Konsentrasi maksimum TPH awal  sebelum proses pengolahan biologis adalah tidak lebih dari 15%.

b)  Konsentrasi TPH yang sebelum proses pengolahan lebih dari 15% perlu dilakukan pengolahan  atau  pemanfaatan  terlebih  dahulu  dengan mempertimbangkan teknologi yang tersedia dan karakteristik limbah.

c)  Hasil uji TCLP logam berat berada di bawah baku mutu seperti yang dicantumkan di dalam Kep-04/Bapedal/09/1995.

d)  Ketentuan persyaratan limbah minyak bumi lain yang bersifat spesifik akan diatur kemudian dan disesuaikan dengan karakteristik dan komposisi limbah.

Pengolahan limbah minyak bumi sebagaimana dimaksud  dapat dilakukan dengan menggunakan metoda  biologis  sebagai  salah  satu  alternatif  teknologi  pengolahan  yang meliputi :

  • landfarming [proses pengolahan limbah minyak bumi dengan cara menyebarkan dan mengaduk limbah sampai merata di atas lahan dengan ketebalan tertentu (sekitar 20- 50 cm)  sehingga proses penguraian  limbah minyak bumi  secara mikrobiologis dapat terjadi]
  • biopile [proses pengolahan limbah dengan cara menempatkan limbah pada pipa- pipa pensuplai oksigen untuk meningkatkan aerasi dan penguraian limbah minyak bumi secara mikrobiologis agar lebih optimal]
  • composting [proses pengolahan limbah dengan menambahkan bahan organic seperti pupuk kandang, serpihan kayu, sisa tumbuhan atau serasah daun dengan tujuan untuk meningkatkan porositas dan aktifitas mikroorganisme pengurai]

bersambung