KUALITAS UDARA AMBIEN SAAT MELETUSNYA GUNUNG MERAPI

Jakarta, 14 Desember 2010. Gunung merapi yang berada di perbatasan antara Propinsi Jawa tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yokyakarta merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif di dunia telah meletus pada tanggal 26 Oktober 2010. Letusan yang disertai keluarnya awan panas telah mengakibatkan banyak korban jiwa serta harta benda penduduk yang ada di sekitarnya. Material yang keluar dari letusan Merapi berupa abu vulkanik mencapai jumlah kurang lebih 150 juta m3 dengan kandungan Silika yang sangat tinggi. Selain itu juga dikeluarkan gas-gas H20, CO2, CO, NO2 dan H2S. Abu vulkanik dan gas-gas akibat letusan gunung Merapi tersebut terus beterbangan ke berbagai daerah.
Abu vulkanik sangat membahayakan kesehatan manusia, terutama pada pernafasan (paru-paru), mata dan kulit. Iritasi pada saluran pernafasan yang terjadi adalah dari saluran pernafasan atas hingga bawah, seperti batuk-batuk dan bersin. Sedangkan pada penderita asma akan dapat mengakibatkan kambuhnya penyakit asma yang diderita. Akibat lanjutan dari Iritasi saluran napas yang terjadi adalah meningkatnya resiko terjadinya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Sementara efek jangka panjang, bisa terjadi penumpukan debu di paru-paru atau Silica yang beresiko terjadinya silicosis.

Untuk mengetahui kualitas lingkungan khususnya kualitas udara ambient akibat rneletusnya gunung Merapi, Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (PUSARPEDAL) Kementerian Lingkungan Hidup melakukan Pemantauan kualitas udara ambien diwilayah Yokyakarta, Magelang, Klaten dan Salatiga selama 5 hari yang dimulai dari tanggal 10 November 2010 sampai dengan tanggal 14 November 2010. Parameter kualitas udara yang dipantau yaitu: Total Suspended Partikulat (TSP)/ debu melayang di udara; dan gas-gas sperti Sulfur Dioksida (S02); Nitrogen Dioksida (NO2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan kondisi Meteorologi.
Tujuan kegiatan pemantauan ini adalah untuk melihat kualitas lingkungan khususnya kualitas udara ambien saat terjadinya letusan gunung Merapi pada zona aman sekitar 25 km, meliputi : Kota Yogyakarta, Kab. Sleman, Kab. Magelang, Kab. Klaten dan Kab. Dlanggu.

Lebih lanjut unduh/klik: Data Pemantauan 10-14 November 2010 pada lokasi zona aman sekitar 25 Km. (Pdf 1.204 kb)

Bersamaan dengan itu pula Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim telah menyampaikan laporan untuk sidang Kabinet Paripurna pada tanggal 25 November 2010 yang lalu dengan materi; (1) Ringkasan Laporan KLH dalam Penanganan Bencana Lingkungan Hidup, (2) Tindak lanjut KLH dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana di Wasior, Mentawai dan Merapi; (3) Laporan Peninjauan ke mentawai yang terbagi 2 laporan yaitu; 3.1. Laporan tim pendahulu; dan 3.2. Laporan tim investigasi data dan identitas kondisi lapangan; (4) Laporan KLH dalam rangka persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gunung Merapi (5) Laporan analisis kejadian banjir bandang di Kabupaten Teluk Wondana; dan (6) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 267 Tahun 2010.

Informasi Lebih lanjut:
Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan kapasitas
Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim

Sumber :

http://www.menlh.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s