Dalam Menulis, Disitu Kadang Saya Merasa Ingin Menangis

Originally posted on ngaji di Nottingham:

Seperti kehidupan kita pada umumnya, dalam kehidupan mahasiswa PhD juga ada pasang surut nya. Ada jatuh bangun nya. Jika pasang-surut, dan jatuh-bangun adalah sesuatu yang wajar, tak perlu larut dalam kesedihan ketika kita merasa jatuh. Hanya satu yang perlu kita lakukan: Terus Berjalan – A Random Thought.

buku_tua ILustrasi : Karya Ilmiah dalam Tulisan Tangan di Museum Of Science and Industry (MOSI), Manchester, UK, 2013

Kawan, Alhamdulilah, pelayaran panjang PhD yang penuh gempuran ombak dan badai ini semakin kian menepi. Kelap kelip lampu mercuar itu semakin jelas terlihat, pertanda dermaga pemberhentian semakin dekat di hadapan. Aku semakin yakin, biidznillah, dengan seijin Allah, bahwa aku akan mampu menggapai tempat bersandar perahu PhD ku ini, sebentar lagi.

Setelah jatuh bangun (eit, jadi ingat lagunya biduan dangdut, Tante Kristina) berjibaku dengan ‘the big problem’ riset, tibalah saya pada kursi pesakitan berikutnya, yaitu menulis. Aih, apa susahnya dengan menulis? Anak kelas 1 SD…

View original 534 kata lagi

International Symposium on Applied Chemistry (ISAC)

International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) or previously known as Seminar Nasional Kimia Terapan Indonesia (SNKTI) is a conference organized by Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Indonesian Chemical Society (HKI), and Indonesian Catalyst Society (MKI). This year is marked as the 3rd SNKTI which is conducted in conjunction with Indonesian Catalysis Symposium 2015. This event will be held on 5-7 October 2015 at Aston Hotel Bandung, Indonesia.

This conference facilitates exchanging ideas and experiences of recent research and its application in chemical related fields, as well as to promote international cooperation among participants. Researcher, lecturer, student, industrial practitioner and government agency are welcomed to participate in this event as paper presenter participant (oral presenter/ poster presenter), or, non paper presenter participant (observer).

CALL FOR PAPER

We invite author to submit full technical papers in 4-6 pages, pdf formatted. Please see the guideline here and download this template to write the paper.

The scope of the conference covers, but is not limited to, following topics:

  • Organic Chemistry
  • Analytical Chemistry
  • Inorganic Chemistry
  • Material Chemistry
  • Environmental Chemistry
  • Green Chemistry
  • Medicinal Chemistry
  • Chemical Biology
  • Electrochemistry
  • Physical Chemistry

Each paper will be double blind peer-reviewed by experts in the relevant fields. Accepted papers should be presented by the author(s) in the event. Presented papers obtain an opportunity to be published at Procedia Chemistry, Elsevier (Scopus Indexed).

REGISTRATION AND PAPER SUBMISSION

Paper presenter participants (oral/ poster) need to register for (i) event registration and (ii) paper submission. While non-presenter participants need to register for the event only. Event registration is available at bottom page of registration menu in this website. For paper registration, please refer to EDAS Page.

Should you have any trouble or need further information, please do not hesitate to contact us here or via email: isac@mail.lipi.go.id.

INVITED PLENARY SPEAKER

  • Dr. Alan Owen (Robert Gordon University)
  • Prof. Nico Voelcker* (University of South Australia, Australia)
  • Prof. Dr. Shogo Shimadzu (Chiba University, Japan)
  • Dr. Oaki Yuya* (Keio University, Japan)

*under confirmation

Etika Ilmiah : Self-Plagiarism

Banyak keuntungan kalau kita bergabung dengan milis yang sesuai dengan ilmu, perkerjaan, hobby dll. Seperti dimilis kimiawan.org, disini bisa mendapatkan tentang informasi seminar, workshop dan diskusi. Tentang diskusi ada topik yang menarik untuk disimak yaitu tentang Etika Ilmiah : Self-Plagiarism.   Karena topiknya menarik maka saya sharing di blog ini. Berikut adalah rangkuman diskusi yang dibuat Bapak Muhamad A. Martoprawiro.

 Etika Ilmiah : Self-Plagiarism

 

1. Sebagai rangkuman, kita tidak boleh melakukan self-plagiarism, misalnya dalam bentuk:

1) Data yang digunakan dalam suatu artikel, telah pernah digunakan dalam artikel sebelumnya, dan  tidak dilakukan perujukan yang semestinya pada artikel yang kedua.

2) Metode yang diuraikan dalam suatu artikel, pernah diuraikan dalam artikel sebelumnya, bahkan walaupun metode tsb. adalah hasil pengembangan si penulis. Kalau si penulis pernah menguraikan metode itu di artikel sebelumnya, walaupun itu metode KARYA SENDIRI, maka di artikel sesudahnya ia cukup merujuknya, tanpa harus menguraikannya lagi.

 

2. Hal-hal berikut bukanlah self-plagiarism:

1) Metode yang diuraikan di skripsi/tesis/disertasi, yaitu hasil pengembangan selama studi,  diuraikan kembali dalam artikel yang  di-submit di jurnal. Yang tertulis di skripsi/tesis/disertasi statusnya  belumlah diterbitkan, bahkan walaupun telah online dalam “institutional  repository”. Justru mahasiswa dan dosen pembimbingnya akan memilah, mana  yang memiliki nilai “kebaruan” dalam skripsi/tesisnya, dan mana yang  Hanya yang memiliki nilai kebaruan sajalah yang ditulis dalam  artikel yang di-submit ke jurnal (baik berupa data, metode, atau teori/hukum), sedangkan hal-hal lain dalam artikel itu dibuat sangat  minimal, dan lebih banyak merujuk sumber primernya. Berbeda dengan skripsi/tesis yang isinya kadang lebih elaboratif.

Tentu, nama mahasiswa dan dosen pembimbingnya harus tertulis sebagai  “authors” artikel itu, beserta nama-           nama lain yang kontribusinya dianggap cukup banyak. Yang kontribusinya dianggap tidak esensial, ditulis                   dalam “acknowledgement” atau ucapan terima kasih.

2) Kalau bukan berupa data, metode, atau hukum/teori baru, tapi cuma uraian dalam latar belakang, dalam batas-batas tertentu tidak masalah  diuraikan di dua artikel atau lebih. Misalnya, dua artikel itu terkait  dengan energi terbarukan. Data, metode, atau obyek yang dikaji dalam  kedua artikel itu berbeda, tapi karena sama-sama dimaksudkan untuk  mengatasi masalah energi, maka bahasan dalam Pendahuluan isinya mirip.

Intinya, yang di-klaim sebagai “original” atau “baru”, tidak boleh  ditulis di dua artikel yang   berbeda. Yang             statusnya  bukan baru, cuma  informasi latar belakang, atau hanya style penulis dalam memberi pengantar                 tentang metode yang dilakukan (jadi, bukan uraian metodenya  yang sama, tapi cuma kalimat pengantarnya),             maka adanya kemiripan itu  TIDAK TERMASUK kategori “self-plagiarism”.

3) Pemberi dana meminta “research report” dengan data yang lengkap. Data dalam research report itu akan sama dengan data yang di-submit ke  Nah, research-report dan artikel jurnal dalam kasus ini, SANGAT MIRIP dengan kasus dissertation/thesis dan artikel jurnal yang  diceritakan di nomor (1). Ini sama sekali bukan self-plagiarism, karena  disertasi maupun research-report bukanlah “published material”, walaupun  universitas maupun si penyandang dana menempatkannya dalam sistem  online. Yang berstatus “published material” adalah artikel jurnal itu.

 

3. Di negara dengan fasilitas penelitian yang canggih, hasil-hasil penelitian yang baru, dapat diperoleh dengan cepat, sehingga mahasiswa  dan pembimbingnya bisa cepat pula memperoleh data yang cukup untuk  menulis artikel. Nah, untuk negara maju seperti ini, terjadi sebaliknya.  Disertasi seolah merupakan hasil “self-plagiarism” dari artikel-artikel  yang telah terbit.

Silakan dicek institutional repository universitas di negara maju, cek  disertasinya, search di Google Scholar.         Akan ditemukan isi disertasi  merupakan “tiruan” dari artikel jurnal, atau kumpulan artikel-artikel jurnal.

Tapi ini juga sebetulnya bukan “self-plagiarism”.

Semoga semakin jelas mana yang “self-plagiarism”, mana yang bukan.

 

4. Realitasnya: NDLTD (Networked Digital Library of Theses and Dissertation) sudah ada sejak lamaaa sekali, yang pertama kali  dikembangkan oleh konsorsium universitas di Amerika Serikat, dan  menyebar ke seluruh dunia. Mereka meng-online-kan disertasi  mahasiswanya, DAN mahasiswa beserta pembimbingnya menulis artikel dari  disertasi itu CUKUP SERING JUGA TANPA MERUJUK DISERTASINYA SENDIRI.

Silakan search “NDLTD” di http://www.google.com.

 

5. Kalau ORANG LAIN menggunakan data disertasi itu, misalnya ia menemukan disertasi itu lewat repository universitas, eg. melalui NDLTD, maka yang  harus dilakukannya:

1) Cek dulu di Google Scholar, Scopus, dll., apakah sang penulis disertasi dan pembimbingnya telah  menulis di jurnal ilmiah. Kalau sudah,  rujuklah artikel dalam jurnal itu.

2) Kalau tidak ditemukan tulisan di jurnal oleh sang penulis  disertasi/pembimbingnya tentang topik yang sama, maka ia dipersilakan  untuk merujuk disertasi tsb.

 

6. Repository BUKAN literatur primer untuk rujukan. Dia bisa memuat tulisan PRA-JournalArticle, atau POST-JournalArticle. Artinya, repository bisa  menjadi latihan untuk menulis artikel, bisa pula memuat artikel yang  telah terbit di journal.

Untuk yang kedua, yaitu memuat artikel yang telah terbit di jurnal, yang ditulis oleh civitas academica-nya, pengelola repositori universitas WAJIB mengecek copyright statement jurnal ybs. Kalau jurnal itu  menyebutkan larangan untuk memuat artikelnya di tempat publik, maka  artikel itu tidak boleh ada di repositori.

Tapi, sejak gerakan open-source, banyak established journals yang  commercial telah mengubah    copyright               licensenya. Sebelumnya melarang  authors untuk memuat artikel jurnal tsb. di tempat mana pun yang  bersifat publik,  sekarang JUSTRU meng-encourage penulis untuk memuat  artikelnya di personal homepage, blog, atau institutional repository.  TAPI, yang dimuat adalah original manuscript, yaitu dalam format yang  belum ada header jurnal, nomor   halaman, dll. WALAUPUN isi manuscript itu 100% sama dengan artikel jurnal. Di bawah manuscript itu, bisa diberi  keterangan bahwa “artikel ini telah diterbitkan dalam jurnal Anu, v.12  p.34-38″, misalnya.

Tapi, sekali lagi, tetap saja pengelola repository harus mengecek  copyright notice/statement dari journal tsb.

 

7. Terakhir, saya ingin bicara tentang repository yang menjadi tempat  latihan menulis artikel. Yang paling terkenal dan tertua adalah  arxiv.org, dari Cornell University, yang memuat artikel dalam bidang  physics, mathematics, computer science, quantitative biology,  quantitative finance and statistics. Inilah yang dikenal sebagai “subject repository”, bukan “institutional repository”, karena  penulisnya dari berbagai institusi.

Dalam arxiv.org, termuat artikel yang BELUM dimuat dalam jurnal. Penulis  boleh meng-upload beberapa versi, mulai          versi awal, versi perbaikan satu, dst., dan semuanya dibiarkan terpelihara dalam repository itu.

Saya pernah menemukan, versi terakhir dari seri perbaikan artikel di  arxiv.org, setelah memperoleh masukan dari     rekannya dalam komunitas ilmiah, isinya 100% sama dengan yang akhirnya terbit di jurnal.

Ketika akhirnya telah terbit di jurnal, arxiv.org memuat keterangan  semacam ini: “artikel ini akhirnya telah terbit di jurnal anu vol.anu p.anu”. Inilah yang di atas saya sebut “PRA-ArtikelJurnal”.

Mengapa si penulis tidak langsung saja submit ke jurnal? Ada banyak alasan: (1) dia ingin menerima masukan dari     komunitas ilmiah tentang  tulisannya, (5) dia masih menunggu beberapa data tambahan, tapi dia ingin memastikan   komunitas ilmiah mengetahui bahwa dia TELAH melakukan  hal tsb. Loncat ke 5 karena ada banyak alasan lain .. :-)

Repository arxiv.org juga memuat POST-ArtikelJurnal. Banyak artikel yang  telah terbit di jurnal, disubmit juga ke     arxiv.org SETELAH artikel itu terbit.

RANGKUMAN: repository, baik berupa Institutional Repository (yaitu  penulisnya dari lembaga/univ tertentu) atau Subject Repository  (penulisnya dari beragam lembaga, tapi dalam subject yang didefinisikan di awal), sama sekali     bukan media publikasi ilmiah, dimana peneliti  merujuknya. Peneliti lain harus merujuk literatur primernya di jurnal,  bukan di repository.

Terima kasih bagi yang telah membaca hingga baris ini .. :-)

Salam,

Muhamad

Sumber : kimiawan.org

Mengapa tolakan antar-elektron tidak memporakporandakan molekul?

Sekedar sharing pengalaman kuliah S2 Ilmu Kimia minggu ini pas sub bagian ikatan kimia. Pertanyaan ini muncul dari mahasiswa yang ikut kuliah tersebut. Mengapa elektro-elektron yang bermuatan sama tidak saling tolak menolak pada suatu atom hingga terpisah malahan mereka stabil di sekitar inti ? Dosenku tentu saja menjawabnya  cuman aku yang memorinya pas2an tidak ingat jawabannya beliau tapi  aku ingat dosenku bilang inilah kesempatan kalau mau mendapatkan nobel di bidang kimia. Soalnya beberapa pertanyaan di kimia yang masih dijawab dengan pemikiran2, asumsi2 dan semua itu tentu saja membutuhkan pembuktian kedepannya baik dengan perhitungan2, percobaan dll. Kalau terbukti maka nobel kimia bisa ditangan tuch. Siapa yang berminat ?

Pertanyaan yang menurutku mirip ini ternyata muncul juga di milis kimia yang diinisiasi oleh Bapak Muhamad A. Martoprawiro. Beliau adalah Dosen Kimia di ITB dan Ketua HKI (Himpunan Kimia Indonesia). Berikut email dari beliau yang saya ambil dari milis kimia dalam menjawab pertanyaan tersebut.

From:”Muhamad A. Martoprawiro via Chemist” <chemist@kimiawan.org>
Date:Thu, Feb 26, 2015 at 2:51 AM
Subject:[Chemist] Mengapa tolakan antar-elektron tidak memporakporandakan molekul?

Salam kimiawan,
Uraian di bawah ini sebetulnya berawal dari pertanyaan mantan mahasiswa S2, yang akhirnya harus berperan sebagai dosen Kimia Fisik di universitasnya. Karena pertanyaan dan jawaban lewat email, tentu tidak bisa diharapkan jawaban yang lengkap dan memuaskan. Tapi saya share saja, kalau-kalau ada yang ingin memperkayanya.

Komunikasi di bawah awalnya berlangsung lewat japri.

Silakan dinikmati .. :-)

Salam,
Muhamad
:-) menulis untuk anggota HKI setiap Rabu, kalau sempat

——-

PERTANYAAN:
Mengapa elektron dikatakan bermuatan negatif? Apakah itu benar atau hanya simbol saja? Sebab jika elektron bermuatan negatif, seharusnya elektron saling tolak menolak dalam ikatan kovalen? Dan tidak terbentuk ikatan.

Saya sudah mencari referensi dari buku Brady, tetapi dibuku tersebut hanya tertulis bahwa elektron ditemukan dari percobaan J.J. Thomson, dan dikatakan negatif karena dibelokkan ke kutub listrik positif dalam tabung katoda.

JAWABAN SINGKAT:
1
Saya mulai dengan atom dulu ya, misalnya atom karbon. Ke-enam elektron memang saling tolak, karena sama-sama bermuatan negatif. Kalau kita sederhanakan dengan ilmu listrik klasik: muatan inti jauh lebih besar dari muatan elektron, sehingga kalau pun ada saling tolak antar elektron, tarikan inti lebih dominan, sehingga elektron2 sekitar inti atom karbon bisa stabil di sekitar inti.

Terjadinya tingkat-tingkat energi elektron yang diskrit tentunya hanya bisa dijelaskan secara kuantum.

2
Sekarang tentang molekul. Kalau menggunakan penyederhanaan cara pandang fisika klasik, kita bisa menggunakan nalar yang serupa. Elektron memang saling tolak, tapi tarikan inti-inti jauh lebih kuat, sehingga elektron bisa cukup stabil berdekatan (walau tetap memelihara jarak).

Penyederhanaan lainnya: elektron bisa berpasangan, karena walaupun muatannya saling tolak (sama-sama negatif), tapi spinnya berlawanan, yang berarti kutub magnet yang dihasilkan dari spin itu, saling tarik (kutub utara elektron pertama menarik kutub selatan elektron kedua, dan sebaliknya). Tentu saja terjadi penyederhanaan yang berlebihan pada penjelasan ini.

3
Sebetulnya, kita tidak bisa terlalu menyederhanakannya. Kita harus menggunakan teori kuantum, yaitu lewat interaksi fungsi gelombang. Pada pembentukan ikatan, fungsi gelombang kedua elektron yang berinteraksi di antara kedua inti, bersifat “sefasa”, sehingga fungsi gelombangnya saling memperkuat. Nilai fungsi gelombang yang besar hasil “interferensi” tsb. Menyebabkan kerapatan elektron di antara kedua inti besar, karena kerapatan itu berbanding lurus dengan kuadrat nilai fungsi gelombang. Kerapatan yang besar di antara kedua inti inilah yang mendekatkan kedua inti, karena kerapatan itu menarik inti untuk saling mendekat ke arah tengah molekul. Dalam konteks teori orbital molekul (MO), interaksi inilah yang menghasilkan orbital ikatan.

Interaksi alternatif bisa terjadi, yaitu fungsi gelombangnya tidak sefasa, artinya, psi (fungsi gelombang) yang satu positif, psi elektron lainnya negatif. Ketika berinteraksi di daerah di antara kedua inti, keduanya saling meniadakan, sehingga kerapatan elektron menjadi rendah. Kerapatan yang rendah ini menyebabkan tidak ada yang menghalangi tolakan antar inti. Akibatnya kedua inti cenderung menjauh. Dalam konteks teori orbital molekul, interaksi inilah yang menghasilkan orbital anti-ikatan.

Orbital ikatan maupun orbital anti-ikatan dibahas dalam konteks pembahasan ikatan kovalen.

 

Pas coba diingat-ingat, jawaban di email tersebut intinya sama dengan jawaban dosenku. Dua dosen yang hebat di bidangnya (Anorganik)

Pelajaran yang bisa diambil dari  semua ini adalah belajar Kimia itu akan sangat menyenangkan kalau bisa mendapatkan dosen-dosen yang bisa menjelaskan pertanyaan2 kita  dengan kata2 yang mudah dimengerti dari materi yang sulit seperti Ikatan Kimia :-). Selamat belajar teman-teman.