Hydrotreating

Peraturan yang berlaku mensyaratkan kadar sulfur pada bahan bahan bakar (bbm) memiliki kadar maksimal tertentu. Bensin 88, bensin 91 dan bensin 95 kandungan sulfur yang diperbolehkan maksimal 0,05 %m/m atau 500 ppm. Minyak Solar 48 maksimal 0,35 %m/m atau 3500 ppm berlaku tahun 2015 dan untuk 1 Januari 2025 maksimal 0,005 %m/m atau 50 ppm. Minyak solar 51 maksimal 0,05 %m/m atau 500 ppm. Kandungan sulfur yang terkandung di bbm ketika terjadi pembakaran akan menjadi gas SO2 yang dibuang ke udara dan akan mengakibatkan masalah lingkungan seperti hujan asam dan pemanasan global. Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa kandungan sulfur di bbm dibatasi.

Proses yang umum digunakan di kilang minyak untuk menghasilkan bbm dengan kadar sulfur yang sesuai spesifikasi adalah hydrotreating. Berdasarkan kamus minyak dan gas bumi,  hydrotreating adalah proses yang mereaksikan hidrokarbon dengan hidrogen dengan bantuan katalis pada kondisi yang tidak menyebabkan molekul hidrokarbon rengkah menjadi hidrokarbon lebih ringan. Sehingga dalam proses ini menggunakan gas hydrogen dan katalis seperti NiMo-Al2O3, CoMo-Al2O3 dll dengan kondisi temperature dan tekanan tertentu. Proses yang terjadi seperti untuk pengurangan kadar sulfur adalah hidrodesulfurisasi. Proses untuk pengurangan kadar nitrogen adalah hidrodenitrogenasi. Dan beberapa proses lain yang terjadi dengan penghidromurnian.  Pada temperature dan tekanan yang tinggi ada kemungkinan terjadi pemecahan struktur hidrokarbon. Reaksi kimia yang terjadi pada penghidromurnian dapat di lihat di bawah
HDS dan HDN

Gambar 1. Reaksi Kimia Penghidromurnian[2]

HDS Thiophene

Gambar 2. Reaksi Kimia HDS pada Thiophene[3]
HDS DBT

Gambar 3. Reaksi Kimia HDS pada Dibenzothiophene[3]

 

Daftar Pustaka

1. Spesifikasi BBM http://migas.esdm.go.id/data-kemigasan/96/Spesifikasi-Mutu-BBM

2. http://www.columbia.edu/cu/chemistry/groups/parkin/hds.html

3. A. Infantes-Molina, A. Romero-Pérez, D. Eliche-Quesada, J. Mérida-Robles, A. Jiménez-López and E. Rodríguez- Castellón (2012). Transition Metal Sulfide Catalysts for Petroleum Upgrading – Hydrodesulfurization Reactions, Hydrogenation, Prof. Iyad Karamé (Ed.), ISBN: 978-953-51-0785-9, InTech, DOI: 10.5772/45629. Available from: http://www.intechopen.com/books/hydrogenation/transition-metal-sulfide-catalysts-for-petroleum-upgrading-hydrodesulfurization-reactions

Analisa Sulfite di Air

Analisa sulfite di dalam sampel air berdasarkan Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, American Water Works Assn; 22 edition (January 5, 2012) bisa di lakukan dengan cara berikut :

4500-SO32-- B. Iodometric Method

Prinsip metode ini adalah sampel dalam suasana asam yang mengandung sulfit dititrasi dengan titrant potassium iodide-iodate standar. Iodine bebas dilepaskan oleh reagen iodide-iodate dan bereaksi dengan SO32- . Titik akhir titrasi ditandai dengan warna biru yang dihasilkan dari iodine pertama berlebih yang bereaksi dengan indicator kanji. Reaksi kimia yang terjadi sebagai berikut :

KIO3 + 5KI + 3H2SO4 –> 3K2SO4 + 3H2O + 3I2
I2 + SO32- + 3H2O –> 2I- + SO42-+ 2H+

4500-SO32-- C. Phenanthroline Method
Prinsip metode ini adalah sampel dalam suasana asam di purge dengan gas nitrogen dan melepaskan SO2 yang ditrap dengan larutan absorbsi mengandung Fe3+ (ferric ion ) dan 1,10-phenanthroline . Fe3+ (ferric ion ) direduksi menjadi Fe2+ (ferous ion) oleh SO2 menghasilkan kompleks tris(1,10-phenanthroline) iron berwarna orange. Setelah Fe3+ berlebih dihilangkan dengan ammonium bifluoride, kompleks phenanthroline diukur secara colorimetry pada 510 nm.

SO32- + 2H+ –> SO2 + H2O
2Fe3+(aq) + SO2(g) + 2H2O(l) → 2Fe2+(aq) + SO42-(aq) + 4H+(aq)
Fe2+(aq) + 3phen(aq) → [Fe(phen)3]2+(aq), [phen = C12H8N2]

Daftar Pustaka

 

 

Audit Internal

Tahun ini adalah tahun kedua menjadi auditor internal untuk SNI ISO/IEC 17025: 2008. Tugas yang sulit menurutku tapi mau bagaimana lagi sudah ditunjuk yach dijalankan sebaiknya. Hal yang berkaitan dengan audit internal ini ada di dalam dokumen SNI ISO/IEC 17025: 2008 bagian persyaratan manajemen. Pengennya menjelaskan satu persatu bagian di dokumen itu tetapi membaca sendiri sepertinya lebih baik :-) . Selamat membaca.
4.14 Audit Internal
4.14.1 Laboratorium harus secara periodik, dan sesuai dengan jadwal serta prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya, menyelenggarakan audit internal untuk memverifikasi kegiatan agar berlanjut sesuai dengan persyaratan sistem manajemen dan Standar ini. Program audit internal harus ditujukan pada semua unsur sistem manajemen, termasuk kegiatan pengujian dan/atau kalibrasi. Manajer mutu bertanggung jawab untuk merencanakan dan mengorganisasikan audit sebagaimana yang telah dijadwalkan dan diminta oleh manajemen. Audit harus dilaksanakan oleh personel terlatih dan mampu yang, bila sumber daya mengizinkan, independen dari kegiatan yang diaudit.
CATATAN Siklus audit internal sebaiknya dapat diselesaikan dalam satu tahun.
4.14.2 Bila temuan audit menimbulkan keraguan pada efektivitas kegiatan atau pada kebenaran atau keabsahan hasil pengujian atau kalibrasi, laboratorium harus melakukan tindakan perbaikan pada waktunya, dan harus memberitahu pelanggan secara tertulis bila penyelidikan memperlihatkan hasil laboratorium mungkin telah terpengaruh.
4.14.3 Bidang kegiatan yang diaudit, temuan audit dan tindakan perbaikan yang dilakukan harus direkam.
4.14.4 Tindak lanjut kegiatan audit harus memverifikasi dan merekam penerapan dan efektivitas tindakan perbaikan yang telah dilakukan.

Tahun ini aku mengaudit di kelompok yang sama dengan tahun kemaren. Semoga tahun ini ada perbaikan  dan tidak ditemukan lagi ketidaksesuaian sama dibandingkan tahun kemaren :-)

Daftar Pustaka
SNI ISO/IEC 17025:2008 Persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi

Permen LH No 22 Tahun 2009

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Tata Laksana Registrasi Kompetensi Bidang Lingkungan